Welcome

Indonesia Ajak Cek Fakta Informasi Politik dari Media Sosial

Media sosial makin banyak digunakan sebagai sumber informasi, termasuk jelang pemilu AS kali ini. Tak pelak, batas antara konten media sosial dan berita makin melebur. Lalu bagaimana diaspora Indonesia yang akan memilih pada pemilu AS kali ini menyaring informasi politik?

Dalam pemilihan umum (pemilu) Amerika Serikat kali ini, peran media sosial menjadi sorotan karena berita yang belum dikonfirmasi bisa beredar dengan cepat. Akibatnya, banyak pengguna terlanjur percaya, meski belum ada pernyataan yang menyanggah atau membenarkan.
Bandar Taruhan
Fungsi media sosial kini sudah bergeser dari hanya sebagai ajang untuk eksistensi diri, menjadi tempat berbagi dan mencari informasi, termasuk juga isu-isu saat pemilihan umum. Konten dan tampilan media sosial yang lebih menarik daripada situs berita, turut mempengaruhi pergeseran fungsi itu.

Hasil jajak pendapat Pew Research Center 2020 menunjukkan 18 persen warga Amerika mendapatkan berita politik mereka dari media sosial. Bahkan, untuk kelompok usia 18-29 tahun, angkanya mencapai 48 persen

Diaspora Indonesia, George Mark, mengaku banyak belajar dari media sosial.

“Anda akan terkejut, ada banyak platform berita yang membuat akun TikTok. Jadi saya melihat itu, lalu merasa, OK, saya belajar sesuatu lewat media sosial,” ujar George yang juga pendukung Partai Demokrat.

Namun, bagi Katherine Antarikso, seorang diaspora Indonesia lainnya, media sosial membantunya memberi perspektif tentang sejumlah isu.

Katherine Antarikso, anggota Pejuang Indonesia Coalition. (Foto: VOA)
Katherine Antarikso, anggota Pejuang Indonesia Coalition. (Foto: VOA)
“Saya mencoba untuk mengikut teman yang bisa berbagi pandangan analitis mereka terkait berita. Jadi saya tidak mendapat berita dari media sosial, tapi saya dapat perspektifnya dari situ,” katanya.

Indah Nuritasari yang menerbitkan media diaspora, Indonesian Lantern di Philadelphia, menekankan perbedaan antara berita dengan konten media sosial. Perbedaan itu, katanya, terkait pada opini dan perspektif.

Ia menceritakan pengalaman yang kurang menyenangkan ketika Indonesian Lantern menyampaikan “suara” yang berbeda dari apa yang beredar di media sosial, tetapi berdasarkan fakta.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *